Rabu, 09 November 2011

Perkembangan Perekonomian Pada Masa Mashab Austria


BAB I
PENDAHULUAN

            Pada permulaan tahun tujuh puluhan abad yang lalu, tiga orang sarjana tanpa tergantung satu sama lain, sampai pada ajaran guna batas. Mereka adalah : Karl Menger, Gossen dan Von Bohm Bawerk. Persamaan pikiran antara mereka adalah bahwa nilai merupakan suatu hubungan antara manusia dan benda.
            Manusia menberikan nilai-nilai terhadap benda-benda. Dengan demikian maka teori harga obyektif kaum klassik secara definitive dikalahkan. Bilamana semua manusia meninggal dunia maka benda-benda akan mempertahankan beratnya, panjangnya dan sebagainya. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan nilai benda-benda tersebut.
A.   LATAR BELAKANG
Pelopor : Karl Menger (1817), buku yang dikarangnya adalah “Grundsatye der Volkswirt – schaftslehre”. Dalam rangka pertentangan metode terhadap Schmoller ditulisnya pula buku : “Uber die Methode der Sozialwissenschaften und der Politische Oekonomie ins besondere”. Ada beberapa hal pokok yang mencirikan Mashab Austria yaitu :
1.         Teori harga subyektif ;
2.         Biaya produksi tidak memegang peranan tersendiri dalam pembentukan Larga ;
3.         Pembagian pendapatan primer dilihat sebagai suatu problem penilaian-penilaian subyektif ;
4.         Mashab ini bertolak daripada penawaran tetap alat-alat produksi ;
5.         Ajaran nilai subyektif dianalisa secara mendalam sekali oleh Mashab Austria.
Sehubungan dengan itu, maka dapat dikatakan bahwa mashab tersebut bersifat psikologis dengan kurang bersifat matematis. Jadi pada Mashab Austria dapat dijumpai teori harga subyektif dalam bentik optimal forma.


B.   RUMUSAN MASALAH
Untuk mempermudah dalam membahas masalah-masalah yang muncul yang tidak dapat dijawab semua oleh paper ini, maka penyusun membatasi pada permasalahan “Masih relevan atau tidakkan pendapat-pendapat dari masing-masing tokoh sejarah pada saat jaman seperti ini?”.

















BAB II
PEMBAHASAN

            Pada khususnya, dalam perkembangan perekonomian masa Mashab Austria terdapat 3 tokoh sejarahwan yang mempelopori lahirnya aliran ini.
Tokoh-tokoh tersebut antara lain : Karl Menger, Gossen dan Von Bohm Bawerk.

A.    KARL MENGER (1840 – 1921).
Pada tahun 1870 di Austria, Perancis dan Inggris dikemukakan oleh ahli ekonomi Karl Menger yang mengememukakan, bahwa sebuah teori nilai baru yang bukan saja berbeda sekali dengan ajaran nilai tenaga kerja yang dahulu dipakai, akan tetapi pula membuka jalan-jalan baru guna mengatasi problematika yang belum terpecahkan. Teori baru tersebut menempatkan sikonsumen sebagai subyek yang akhirnya akan memberikan penilaian pada pusat pemikiran ekonomi.
Dapat diklasifikasikan dari pendapat itu antara lain sebagai berikit :
1.      Ada hubungan antara manusia dan barang ;
2.      Metode yang digunakan dalam penyelidikan masalah ekonomi adalah metode induksi dan deduksi ;
3.      Manusia sebagai Homo Economicus dipakai sebagai hipotesis kerja ; dan  
4.      Karena ada titik keseimbangan antara permintaan dan penawaran maka terjadilah harga.
Tindakan penting pertama yang dilakukan oleh ajaran nilai tersebut adalah memecahkan antinomi nilai. Menurut paradoks tersebut maka benda-benda dengan nilai pakai terbesar seperti air dan udara boleh dikatakan mempunyai nilai tersedikit, atau sama sekali tidak mempunyai nilai.
Para pihak yang mempelopori Mashab Austria berpendapat bahwa nilai suatu benda bukanlah sesuatu yang Inhaerent dengan benda tersebut saja melainkan mereka berpangkal pada subyek yang menilaikan itu sendiri. Menurut anggapan mereka nilai suatu benda harus diterangkan daripada fakta, bahwa suatu benda mempunyai kapasitas untuk memenuhi suatu kebutuhan dengan kata lain benda tersebut mempunyai nilai karena memberikan guna bagi subyek yang menilaikan.
Nilai tukar harus diterangkan berdasarkan nilai pakai subyektif dan nilai pakai obyektif. Disamping nilai pakai tersebut, terdapat juga nilai tukar obyektif dan nilai tukar subyektif.
Dalam rangka untuk memecahkan antinomi nilai, maka Menger mengadakan perbedaan antara kegunaan jumlah total suatu benda dan guna suatu kesatuan konkrit tertentu, yang ditambahkan atau dikurangi pada persediaan yang sudah ada. Pendapat Menger adalah bahwa sebab timbul adanya antinomi nilai yaitu tidak adanya perubahan tajam antara kegunaan menurut jenis dan guna dari pada kebutuhan bagian yang konkrit.
Kaum klasik dalam hal memandang soal nilai hanya memperhatikan kategori-kategori kebutuhan dan tidak memperhatikan kebutuhan yang konkrit. Jadi makin banyak jumlah suatu benda, makin berkurang nilai kesatuan terahir (kesatuan marginal). Akhirnya kesatuan terahir akan mencapai nilai nol sesuai perkataan Clark yang menyatakan bahwa suatu benda adalah “a bundle of distinct utilities”.
Dari pendapat diatas yang telah dikemukakan oleh Karl Menger bahwa hal tersebut masih relevan apabila dipergunakan pada saat ini. Contohnya saja adanya hubungan antara manusia dan barang dalam suatu kegiatan ekonomi, dimana suatu barang mampu memenuhi kebutuhan seseorang tersebut maka barang tersebut mempunyai nilai tinggi sehingga teori ini dikenal dengan nilai subyektif. Dan dalam pendapat tersebut dapat dikatakan manusia sebagai mahluk ekonomi sebab setiap manusia yang melakukan kegiatan didorong oleh kepentingan diri sendiri.

B.   GOSSEN
Gossen mengemukakan hokum kejenuhan yang kemudian terkenal sebagai Hukum Gossen I dan II.
Hukum Gossen I
Tingkat kenikmatan, bilamana terus-menerus dipenuhi, maka kenikmatan itu akan berkurang dan lama-kelamaan sampai pada kejenuhan.

Hukum Gossen II
Manusia selalu berusaha memenuhi bermacam-macam kebutuhanya sampai tingkat intensitas yang sama
            Dengan demikian Gossen telah mengunakan rumus-rumus matematis untuk gejala-gejala psikologis bagi ilmu ekonomi dan Karl Menger menyusun skema dari hukum Gossen tersebut, sebagai berikut.

I           II         III        IV        V         VI        VII      VIII     IX        X
10
9          9
8          8          8
7          7          7          7
6          6          6          6          6
5          5          5          5          5          5
4          4          4          4          4          4          4
3          3          3          3          3          3          3          3         
2          2          2          2          2          2          2          2          2         
1          1          1          1          1          1          1          1          1          1
0          0          0          0          0          0          0          0          0          0

Dari skema diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak akan ada yang memenuhi salah satu kebutuhannya sepuas-puasnya dan semua kebutuhan lainnya dibiarkan tak tepuaskan. Guna total akan dimaksimalisasikan bilamana pendapatnya dibagi sedemikian rupa atas macam-macam kategori kebutuhannya hingga pengeluarannya terakhir yang memberikan nilai guna yang sama.
Dari pendapat Gossen diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hal tersebut masih relevan dipergunakan pada saat ini, contohnya sebagai berikut yang dapat digambarkan oleh kurva perilaku konsumen pada Hukum Gossen 

C.   VON BOHM BAWERK
Dalam ajaran yang dikemukakan oleh Von B. B., terdapat masalah yang yang diselidikinya bahwa batas-batas dimana harga-harga berfluktuasi makin menyempit dengan makin bertambahnya persaingan. Dari masalah tersebut Von Bohm Bawerk mengemukakan pendapat yaitu apabila terdapat adanya persaingan pada kedua belah pihak (pembeli-penjual) maka harga pasar sangat dibatasi.
Diatas, harga pasar dibatasi oleh penilaian pembeli terakhir yang masih turut serta dalam hubungan tukar-menukar dan calon penjual terakhir yang tidak dapat turut serta dalam hubungan tukar-menukar. Kebawah, harga dibatasi oleh penjual terakhir yang turut serta dalam hubungan tukar menukar dan calon pembeli terakhir yang tidak dapat turut serta dalam hubungan tukar-menukar.
Menurut Von Bohm Bawerk terdapat 4 faktor yang mempengaruhi tinggi dan rendahnya tingkat harga, yaitu :
1.      Jumlah barang yang akan dibeli ;
2.      Harga taksiran dari pembeli ;
3.      Jumlah barang yang ditawarkan ; dan
4.      Harga taksiran dari penjual.
Karena adanya permintaan dan penawaran, maka harga suatu barang di pasar dibatasi. Jika ada keseimbangan, maka terjadilah suatu harga.
Dari pendapat yang sudah dikemukakan, hal tersebut masih relevan pula pada saat ini, kenyataannya saja apabila ada suatu situasi katakanlah di pasar yang sedang ada proses transaksi suatu barang. Yang pertama, dimana seorang penjual dan seorang pembeli terdapat adanya monopoli perdagangan pada kedua belak pihak yang menimbulkan adanya permintaan dan penawaran. Kedua, adanya persaingan dari satu pihak diantara para penawar. Ketiga, adanya persaingan dari satu pihak diantara para peminta dan yang keempat, ketika semua proses dalam situasi tersebut sudah dijalankan maka adanya persaingan antara para pembeli maupun penjual atau peminta dan penawar.























BAB III
PENUTUP

SIMPULAN
Pada permulaan tahun tujuhpuluhan abad yang lalu, tiga orang sarjana tanpa tergantung satu sama lain, sampai pada ajaran guna batas. Mereka adalah : Karl Menger, Gossen dan Von Bohm Bawerk. Persamaan pikiran antara mereka adalah bahwa nilai merupakan suatu hubungan antara manusia dan benda. Dari masing-masing tokoh sejarah mempunyai pendapat yang berbeda-beda antara teori yang dikemukakan.

Pada Karl Menger,
Mengemukakan adanya teori baru yang berbeda dengan teori tenaga kerja sehingga antara nilai, harga dan pendapat. Sehingga harus membedakan pengertian nilai pakai subyektif dan obyektif maupun nilai tukar subyektif dan obyektif.
Gossen
            Mengemukakan adanya tingkat kejenuhan pada pemuas kebutuhan manusia yang bilamana berlebihan secara terus-menerus dan ketidakpuasan apabila tidak terpenuhi. Sehingga semua itu akan mempengaruhi tingkat kepuasan pada konsumen dan produsen pada Hukum Gossen I dan II.
Von Bohm Bawerk
Pada pendapatnya dikemukakan bahwa harga ditenyukan oleh penilaian-penilaian subyektif para peminta dan penawar. Mengenai pasangan batas adalah bahwa harga akan terletak antara perkiraan-perkiraan nilai, pasangan-pasangan batas. Sehingga dalam Mashab Austria juga secara tegas menyatakan bahwa para konsumen memberikan arah kepada produksi.

Dapat ditarik kesimpulan dari ketiga pendapat tersebut bahwa masing-masing tokoh berbeda pendapat tetapi masih saling berkesinambungan antara satu dengan yang lain hanya saja dari satu tokoh dapat dikembangkan lebih mendasar.


DAFTAR PUSTAKA

Boediono. 2002. Ekonomi Mikro. Yogyakarta : BPFE.
Winardi. 1977. Sejarah Perkembangan Ilmu Ekonomi. Bandung : Tarsito.
Winardi. 1990. Ilmu Ekonomi. Bandung : Citra Aditya Bakti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar